Pages

Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

Maka, Bantu aku


Demi apapun yang ada disini.
Semua terasa biasa meski seseorang disana begitu menderita.
Begitu pula aku.
Tak kunjung bersimpati meski dunia semakin perih menjadi-jadi.
Aku bahkan tak mengerti jika aku harus melakukan sesuatu.
Katakan, apa yang mesti kulakukan?
Berdiri? Berlari? Atau mematung tak berarti.
Aku memang tak punya harapan saat ini.
Karena tiba-tiba, semua terlihat kosong.
Tak ada yang bisa kulakukan selain minta tolong.
Agar mereka membantuku untuk sekedar berdiri.
Menatap jauh hari ini.
Lalu berlari menuju tanah kosong yang harusnya kutuju.
Dan aku, masih berupa kebodohan.

Akan kehadiranmu yang tak pernah stagnan.


Maka bantulah aku.
Untuk bisa berdiri meski hampir tak mampu.
Meski sudah terlambat untuk ku mulai lagi.

Maka bantulah aku.
Yang sendiri tak kunjung memberi arti.

Senin, 17 Februari 2014

sudut kota malam rabu

langkah gontai menghampiriku melewati gang kecil yang senyap di malam rabu
ia datang dengan seplastik rindu yang berbalut jagung bakar malam itu
ia menyapa, lalu dengan santainya duduk bersila menghadapku

"kau mau?" tawarnya, meski salah satunya memang untukku.

dan untuk kesekian kalinya ia tersenyum, menandakan kerinduan yang telah tertuai
ingin kubalas senyumnya, meski ragu, dapatkah senyumku meyakinkannya.. bahwa aku tak ingin lagi berada di sampingnya, entah sampai kapan waktunya.
ia menatap jauh rel kereta di sepanjang jalanan kota, tatapannya hampa tak berupa.

"untuk apa kau lakukan semua ini?" tanyaku.
"untukmu, siapa lagi?" ia tak punya jawaban lain.
"tapi aku tak pernah menginginkannya,"
"tapi aku. aku yang menginginkannya, dan orang itu adalah kau,"
"aku sudah berulang kali mengatakannya. aku tak bisa," kupalingkan wajahku saat ia menatapku.
"meski sudah terbiasa? kenapa tiba-tiba kau melepasku? lalu apa arti semua ini?"

jemper hitamnya terlihat samar diantara temaram lampu malam. sudut kota tak lagi ramai. pikiranku berkecamuk tak menentu. antara harus diam, atau memilih untuk meninggalkan.
ia terdiam beberapa saat. menunggu aku kembali. kembali untuk tidak mengambil keputusanku yang baru.
kereta melaju, membisingkan jejak-jejak semu yang terukir membisu di sudut kota malam itu. aku masih terdiam dalam sesenggukan. sedangkan ia beradu bersama kebisingan, berteriak melepaskan semua beban bersama kereta yang mulai berhenti perlahan. namun malam itu, tak ada jawaban. yang ada hanya diam.

hingga dua tahun kemudian, ia datang. tak lagi seperti dulu. meski sempat beradu, saling bertukar argumen tak menentu. mungkin lelah. atau temukan yang baru.


Selasa, 12 Maret 2013

Sebatang Rokok Lama

entah bagaimana ia menghabiskan masa muda dengan sebatang rokok di mulutnya.
sebatang rokok yang dihisapnya setiap hari, semakin hari, mengendap dibalik dada, zat-zat kimia yang katanya berbahaya.
hingga ketika ia beranjak dewasa, sakit itu menimpanya, terpaksa ia berhenti dari rutinitas bersama sebatang rokoknya.

sampai tiba saatnya, seorang gadis kecil lahir ke dunia. gadis kecil, putri pertamanya yang telah dinanti sekian lama. ia tumbuh seperti biasa, seperti anak-anak yang lain. namun ia lemah. karena sebatang rokok memberi beban dalam hidupnya.

gadis itu tumbuh dengan penyakit di dadanya. entah apa namanya, sesak yang ia rasa. sejak kecil ia sakit-sakitan, dan setiap ia sakit ayahnya selalu ijin dari kantor.. sampai-sampai, teman-teman kerjanya hafal.. "anakmu sakit lagi?" begitu katanya.

namun ayah tak pernah mengajaknya bicara. pernah, hanya sebentar dan saat-saat penting. duduk bersama untuk mengobrolpun hanya saat-saat tertentu yang ia rasa. ayah tak pernah tersenyum padanya, entah malu atau apa. tapi kepada anak-anak kecil, ia begitu penyayang. ayahlah orang yang paling dirindukan anak-anak dirumah itu.

setiap gadis itu sakit, ayah yang paling panik. ayah yang dingin, sangat dingin, tiba-tiba menjadi sangat lembut ketika anak sulungnya itu kambuh. entah, mungkin merasa bersalah. karena kata dokter, penyakit anaknya adalah penyakit keturunan.

setiap bulan bahkan setiap hari, obat-obatan kimia terus diminumnya, demi kesembuhan yang selama ini didamba. namun hari demi hari, sampai ia beranjak dewasa, sakit itu masih ia derita, kambuh saat ia mencoba untuk sembuh. kambuh saat ia berusaha untuk melawan segala keterbatasannya.

gadis itu, ia tak mau menyalahkan siapapun. ia tak ingin menyesali masa lalu ayahnya. ia tak ingin marah padanya. karena sedingin apapun ayahnya, ayah yang paling berjuang untuk gadis itu sembuh, bagaimanapun caranya.

"Ayah, aku tak butuh obat-obat kimia yang bisa kau beli. Sudah banyak obat yang kuminum, tapi masih saja begini. Ayah, mungkin satu permintaanku ini adalah obat jika kau mau menurutinya. Ayah, jadilah imam di setiap sholatku, sampai akhir nafasku.."


Kamis, 10 Januari 2013

nostalgia dari Sekaten

ke Sekaten semalem bagaikan kembali ke masa lalu, masa kecil
masa dimana tiap malem minggu selalu diputer-puterin sama ortu keliling kota
masa dimana tiap minggu pagi selalu diajakin ngeliat dunia diluar sana
ngeliat sesuatu yang baru, belajar dari setiap hal yang kita temui

ketemu banyak hal ajaib semalem, ini nih..

1. Bianglala, mainan yang kurindukan


     walaupun semalem emang ga sempet naik bianglala. sedikit bernostalgia dengan melihatnya. ada banyak cerita tentang bianglala.

     dulu ketika masih kecil, ke sekaten jogja bareng keluarga sepupu. saat yang lain minta makanan dan jajanan, aku bandel minta naik bianglala. bianglala itu tinggi, gak ramah buat anak-anak seusiaku waktu itu, begitu kiranya tanggapan saudaraku. tapi aku memaksa dan akhirnya naik bianglala juga, sama almarhumah sepupuku yang waktu itu udah punya anak 4tahun lebih muda dari aku. sodara-sodara yang lain cukup ngeliat dari bawah

     semenjak itu tiap ke THR selalu minta naik bianglala. cuma ibu yang mau nemenin naik. kalo udah di puncak, bisa liat apa aja ttermasuk lapangan bola yang selama ini cuma kuliat di TV-TV.

     aku selalu suka naik bianglala, aku bisa ngeliat apa aja di ataasnya, dan melawan rasa takut saat ia berputar ke arah mana saja.


2. kapal-kapalan

     gak mikir bakalan dibeliin ginian. padahal aku udah kelas 3 SMA, kemaren pas beli diliatin anak kecil, ga malu sih, tapi rada gengsi -apa bedanya. yang kecil harganya 6rb, yang gede 12rb. biar bisa jalan, bagian belakang kapal dikasih potongan seng yang ada kapasnya, dikasih minyak trus dinyalain pake api. sebelum jalan dikasih air dulu di bawahnya, lewat bolongan kecil di belakang kapal -yang aku liat kemaren gitu, tapi gatau biar apa. trus taro tu kapal di ember, jalan deh.

     terakhir beli mainan itu adalah 10tahun yang lalu, waktu wisuda kakak sepupu di UNS. dibeliin sama temennya kakakku, trus ilang.

     ga rugi juga beli ginian. ngeliat kapal itu bergerak, senyum ikut tergerak. barang langka yang cuma ada di indonesia. bahagia ga selalu dengan kemewahan, ato hal-hal yang menarik. bahagia itu simpel.


3. wedang ronde

     gambarnya monggo search di google. wedang ronde itu isinya bulet2 isinya kacang ijo sama kacang sama itutuh merah-merah, lupa namanya apa -__- trus dikasih kuah air jaheyang mungkin dikasih gula jawa. kalo salah maap yaa hehe ini ngawur soalnya

     dulu tiap malem pasti bapak beli wedang ronde. tapi sekarang entah kemana si penjual ronde berada. danm semalem sebelum ke sekaten ngeliat wedang ronde di depan sma4, pengen makan tapi masa iya sendirian. sampe di sekaten ternyata makan wedang ronde juga.