Pages

Tampilkan postingan dengan label Teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Dialog Malam: Belajar Bertahan



“Aku takut..” ujarku memecah sunyi di suatu malam.

“Apa maksudmu?” seorang teman memalingkan wajahnya ke arahku.

“Aku takut jika suatu hari nanti aku tak lagi seperti ini,”

“Seperti ini bagaimana?” 

“Aku takut nggak bisa istiqomah, Rin! Entah kenapa setelah akhir-akhir ini ngeliat fenomena-fenomena itu..” 

Aku menghela napas panjang. Perlahan memori-memori itu kembali. Tentang cerita-cerita yang selama ini kudengar, tentang beberapa teman yang ‘terjatuh’ di tengah jalan, dan tentang orang-orang yang terbuai keduniaan.

“Sa, kayak gitu bukan buat ditakutin,”

“Waspada kan perlu.”

“Inget nggak hadits arba’in nomor 4?”

“Inget..”

“Inget juga nggak tombo ati yang kelima?”

“Enggak,”

“Berkumpul dengan orang-orang sholih, Sa. Kadang, ketika kita sendiri, banyak godaannta,”

“Iya. Kita begitu rapuh. Rawan terguncang, rawan futur,”

“Nah.”

"Kalo bareng-bareng, banyak yang ngingetin. banyak yang kasih semangat. Ya Alloh, Rin, aku kok jadi kangen temen-temen ya."

"Udah ngaji belum hari ini?"

"Dikit,"

"Oloh. Besok tambahin lagi,"

“Iya, Rin. Tapi bantuin aku, ya?”

"Bantu apa?"

"Bantu ngingetin lah,"

“Tanpa kamu minta, udah kewajibanku sebagai saudara buat saling membantu,”

Ririn tersenyum, membuatku semakin yakin bahwa Alloh sayang padaku dengan menghadirkan ia sebagai saudaraku, seraut wajah manis yang selalu menyemangati dan menginspirasi.

“Suatu ketika ustadzku pernah bilang.. Jika seorang teman yang biasanya berperilaku buruk tiba-tiba berubah menjadi baik, jangan heran, karena dia bukan setan. Jika seorang teman yang biasanya baik, sholih, tiba-tiba berubah jadi jahat, jangan heran karena dia juga bukan malaikat.”

..


-Dan kau harus tetap teguh, untuk tegar berdiri diatas kapal yang lautnya bergelombang. Semua bisa mudah menjadi yang didamba, tapi beratnya istiqomah harus kau pertahankan jua-

Senin, 24 Februari 2014

Maka, Bantu aku


Demi apapun yang ada disini.
Semua terasa biasa meski seseorang disana begitu menderita.
Begitu pula aku.
Tak kunjung bersimpati meski dunia semakin perih menjadi-jadi.
Aku bahkan tak mengerti jika aku harus melakukan sesuatu.
Katakan, apa yang mesti kulakukan?
Berdiri? Berlari? Atau mematung tak berarti.
Aku memang tak punya harapan saat ini.
Karena tiba-tiba, semua terlihat kosong.
Tak ada yang bisa kulakukan selain minta tolong.
Agar mereka membantuku untuk sekedar berdiri.
Menatap jauh hari ini.
Lalu berlari menuju tanah kosong yang harusnya kutuju.
Dan aku, masih berupa kebodohan.

Akan kehadiranmu yang tak pernah stagnan.


Maka bantulah aku.
Untuk bisa berdiri meski hampir tak mampu.
Meski sudah terlambat untuk ku mulai lagi.

Maka bantulah aku.
Yang sendiri tak kunjung memberi arti.

Sabtu, 22 Februari 2014

Dialog Malam: Ujian, Perbedaan dan Calon Imam

Yap, semalam saya diskusi panjang lebar dengan seorang teman akhwat yang cukup rupawan. Karena dia sendirian di kosan, saya yang anak rumahan inipun diminta untuk menemaninya bermalam barang sebentar. Lama nggak ketemu juga, pertemuan kami semalam diawali dengan ngobrol dan diskusi panjang lebar selama hampir 4 jam-alhasil paginya harus molor karena ngantuk betss. Ada banyak ilmu yang saya dapatkan dari obrolan itu.

Hmm. Respect buat temen saya yang satu ini. Dia berani mengambil satu langkah kecil yang cukup berat-menurut banyak orang. Berani ngambil resiko segede apapun demi agamanya, ketika diluar sana orang-orang termasuk saya bahkan enggan untuk mengambilnya. Ghirohnya yang bikin saya kagum, beuh saya mah ngga ada apa-apanya :((

Perlahan diri ini mulai berkaca. Ujian yang selama ini saya dapet, blas ga ada apa-apanya. Mulut yang selama ini mengeluh, jauuh dari mulut-mulut yang basah dengan menyebut-Nya, meski ujian sering datang menyapa.
Dia selalu inget pesen ayahnya, yang kira-kira begini, “apapun yang mereka katakan tentang kamu, udah biarin aja. Toh mereka ngga bisa nyelametin kamu dari api neraka,”

Diskusipun berlanjut.. dan kali ini ngomongin soal perbedaan. Iya, perbedaan yang udah lama saya galauin. Ketergersangan hati akan seorang kawan yang bisa menjelaskan semua perbedaan ini akhirnya terjawab perlahan.

Lalu, tentang, “seperti apa imam yang diinginkan nanti?” memang, melihat umur kami yang sekarang, masih belum cukup ilmu rasanya. Tapi kami memang perlu belajar sejak sekarang, mengingat suatu hari nanti kami akan menjadi madrasah bagi mujahid-mujahidah kecil kami –insyaAlloh- dan ngga ada salahnya untuk belajar mulai dari sekarang. Dan salah satunya, belajar mengenal imam itu sendiri, heuheu.

Aku terlahir dari ‘sini’, maka wajar jika sudut pandang, cara berpikir dan kebiasaanku masih seperti ini. maka ketika aku melihat keluar, dan aku menemukan keterasingan, itu karena aku belum berkenalan dengan seorang teman. Dan sampai hari ini, hari-harikupun masih diwarnai oleh mereka, teman-teman lama, yang dulupun berjasa menjadi perantaraku dengan cahaya-Nya.

Dan di akhir obrolan kami, dia sempat bertanya, “Ukhty, adakah pernah dalam hatimu terbesit untuk bercadar?”


“Ya Alloh, tunjukkanlah kepada kami yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah.”

Senin, 17 Februari 2014

sudut kota malam rabu

langkah gontai menghampiriku melewati gang kecil yang senyap di malam rabu
ia datang dengan seplastik rindu yang berbalut jagung bakar malam itu
ia menyapa, lalu dengan santainya duduk bersila menghadapku

"kau mau?" tawarnya, meski salah satunya memang untukku.

dan untuk kesekian kalinya ia tersenyum, menandakan kerinduan yang telah tertuai
ingin kubalas senyumnya, meski ragu, dapatkah senyumku meyakinkannya.. bahwa aku tak ingin lagi berada di sampingnya, entah sampai kapan waktunya.
ia menatap jauh rel kereta di sepanjang jalanan kota, tatapannya hampa tak berupa.

"untuk apa kau lakukan semua ini?" tanyaku.
"untukmu, siapa lagi?" ia tak punya jawaban lain.
"tapi aku tak pernah menginginkannya,"
"tapi aku. aku yang menginginkannya, dan orang itu adalah kau,"
"aku sudah berulang kali mengatakannya. aku tak bisa," kupalingkan wajahku saat ia menatapku.
"meski sudah terbiasa? kenapa tiba-tiba kau melepasku? lalu apa arti semua ini?"

jemper hitamnya terlihat samar diantara temaram lampu malam. sudut kota tak lagi ramai. pikiranku berkecamuk tak menentu. antara harus diam, atau memilih untuk meninggalkan.
ia terdiam beberapa saat. menunggu aku kembali. kembali untuk tidak mengambil keputusanku yang baru.
kereta melaju, membisingkan jejak-jejak semu yang terukir membisu di sudut kota malam itu. aku masih terdiam dalam sesenggukan. sedangkan ia beradu bersama kebisingan, berteriak melepaskan semua beban bersama kereta yang mulai berhenti perlahan. namun malam itu, tak ada jawaban. yang ada hanya diam.

hingga dua tahun kemudian, ia datang. tak lagi seperti dulu. meski sempat beradu, saling bertukar argumen tak menentu. mungkin lelah. atau temukan yang baru.


Sabtu, 18 Januari 2014

adakah itu engkau

adakah itu engkau
yang dulu selalu membuka tangan jika ku butuh bantuan

adakah itu engkau
yang dulu selalu ada jika ku kehilangan separuh asa

adakah itu engkau
yang dulu selalu menyediakan bahunya untuk ku sandari dengan tenang

adakah itu engkau
dan itulah engkau
yang dulu dan kininya mulai berbeda

adakah itu engkau
yang kini tak peduli saat ku teriaki

adakah itu engkau
yang kini berpaling jika kupanggil namamu lirih

adakah itu engkau
yang kini berlari, tak lagi tersenyum lagi bicara sedikitpun

adanya itu memang engkau
yang tak lagi mampu menghapus pelan air mataku
menahan perih setelah menyadari bila kini, adiknya tak lagi berada di sisi
ia pergi, tak pernah pamit dan belum juga kembali
ia jauh, terbawa arus deras ego yang mengeras

semoga kau temukan dunia yang lebih baik. dunia yang lebih terang dan membahagiakan.


Sabtu, 09 November 2013

apa kabar saudariku?

ya, apa kabar saudariku?
masih kuingat jelas senyummu yang dulu.
dulu, karena kini kau begitu rapat menyembunyikannya dariku.
semahal itukah?
entah.

masih kuingat jelas semangatmu dalam berilmu.
semangatmu kala mengingatkan kawan-kawan semasa dulu.
dulu, karena kini kau tahan semangat itu.
entah semangat apa yang kau miliki saat ini, aku tak mengerti.

pun masih kuingat kerinduanmu dalam ukhuwah kita dulu.
beberapa hari tak bertemu, kau rindu.
rindu untuk berkumpul dan bersua karnaNya, bukan begitu?

ah, saudariku.
aku sudah lupa jika itu dulu.
entah setan macam apa yang kini merebutmu dariku.
merebut hatimu dari indahnya ukhuwah ini.

saudariku, aku bahkan tak mengerti.
secepat ini bumi berputar, dan secepat itu imanmu berlalu.

baru kemarin rasanya kau bertanya ini, itu dan kau amalkan sebisamu.
baru tadi rasanya kau minta mamamu tuk cepat-cepat belikan hijab yang baru.
hijab yang Alloh kehendaki.
hijab yang benar-benar melindungimu.
namun tak sampai beberapa hari, kau ganti lagi.

kau berubah.
membekaskan setitik kekecewaan di hati kami.

kau berubah.
bahkan tak sedikitpun merasakan kesedihan kami.

bahkan kau tertawa, karena bisa 'berlepas diri' dari kami.
itukah yang selama ini kau mau?
lalu dimana semangatmu yang dulu?

mungkin benar adanya.
jika Alloh tak menghendaki hidayah pada seorang hamba, tak dapatlah hamba itu merasakannya.

saudariku, kami merindukanmu. dan mencintaimu karna Alloh.
semoga hidayahNya kan menerangi kembali hatimu kini :))


Jumat, 08 November 2013

kau hanya tak mengerti

malam semakin pekat saat aku menuangkan teh hangat di cangkir kecilku.
angin malam melambai pelan meniup kerudung biruku, pertanda bahwa jendela ruang tamu belum ditutup.
pelan tapi pasti kulangkahkan kaki menuju kamar sembari mengambil ponsel yang terletak di meja ruang tamu.
aku tersenyum saat melihat nama seorang teman muncul di hpku, pertanda pesan singkat darinya.
namun tak sampai lima detik, senyumku berubah setelah membaca pesan singkatnya.

**

"kok manyun?" tanya seorang teman saat aku menghampirinya pagi itu. aku terdiam beberapa saat, sampai akhirnya keluarlah perasaanku dalam kata2 yang kulontarkan padanya. dengan tenang dan senyuman, ia menjawab,
"cie.."
 "kok cie?"
"abisnya kamu mellow gitu pas ada masalah sama dia,"
"aduh ci bukan itu masalahnya,"
"trus?"
".."
"ngaku aja, hati ga bisa sembunyi," cici, temanku mulai membuka laptop hitamnya.
"bukan itu ci.. masalahnya, entah kenapa aku selalu serba salah di mata dia. ini bukan soal perasaan merah jambu, apalah itu. ini soal.. em, harga diri, ci.."
"hmm.. iya-iya. cerita lagi deh gimana lengkapnya,"
"awas kalo masih keluar cie-cie lagi,"
"iyaa. ntar yang keluar 'cihuyy'.." cici tertawa lebar, segera kucubit lengannya.
"entah kenapa sama manusia yang satu ini, aku selalu ngerasa diremehin.. bukannya apa-apa, tapi kan ga enak juga,"
"diremehin gimana?" cici mulai mengetik seperti seorang wartawan yang baru mendapat berita.
"hmm.. pernah, dulu aku diingetin sama beliau, dan akunya ga masalah. trus kemarin gantian ku ingetin beliau dengan kata-kata yang sama kayak dulu beliau ingetin aku, tapi kok kayaknya beliaunya ga suka gitu,"
"trus?"
"trus setiap aku ngomong, entah itu di forum ato bukan, beliau selalu komentar, seolah-olah ngejudge.. ah pokoknya.. gitu deh."
"perasaanmu aja kali,"
"iya, tapi ngena banget,"
"ga usah terlalu dipikirin,"
"tapi kepikiran teruus,"
"hmm..kadang kita itu ngeliat orang cuma sebagian. cuma di bagian-bagian yang paling berpengaruh ke kita. dan sayangnya, yang kamu liat tuh pengaruh negatifnya," kata cici mulai membijak. ia menutup kembali laptopnya.
"gimana tuh ci?"
"aku liat dia ke kamu ga gitu-gitu amat kok. emang sih kadang kalo ngomong suka nge-jleb, tapi inget ga pas acara *tuuut* dia ngomong apa ke kamu?"
"inget sih.. tapi kayaknya itu cuma sebatas menghibur,"
"ah, nggak juga. trus soal dia bermasalah pas kamu ingetin balik, bisa aja dia lagi ga mood. coba deh diajak ngomong baik-baik, pasti ga gitu lagi kejadiannya. maklumlah orang sibuk dianya, kalo lagi cape mungkin gitu,"
"tapi ci,"
"inget ga pepatah, 'jangan liat orang sebelah mata'? nah itu pepatah juga bisa kamu pake di posisimu sekarang,"
..
"iya juga ya ci,"
semilir angin menepuk wajahku pagi itu. cici tersenyum dan mengacungkan jempol padaku.
"husnudzon sis," katanya.
"oke sis, makasih pencerahannya,"
"senyumnya mana?"
"masih susah ci,"
"yaampun, perlu dibeliin nasi kucing dulu?"
"nah iya, itu maksudnya," tanpa aba-aba akupun memperlihatkan sesimpul senyum. cici segera menarik tanganku dan berjalan ke arah warung nasi terdekat.

**

mungkin bener kata cici, yang kita pikirin belum tentu semuanya benar. ibarat lagi nyetak foto di tempat orang dan ada satu bagian yang rusak, kita malah fokus ke satu bagian yang rusak itu dan ngomel abis-abisan padahal masih banyak bagian yang bagus juga.

apapun keadaannya, baik kita di posisi yang 'di-bully' ato orang lain yang 'ke-bully', keep husnudzon. hehehe :))

Minggu, 06 Oktober 2013

untukmu, kawan

bismillaah
lama tak menulis lagi
demi sekedar mengisi, ini tulisan saya 3 tahun yang lalu, pernah saya posting di note FB. saat SMP
semoga bermanfaat

untukmu, kawan

26 September 2010 pukul 23:45
bacalah, semoga bermakna,,


hai kawan

ingatkah kalian hari dimana kita dipertemukan ?
waktu disaat kita bermimpi untuk menyatukan harapan,
dan gemerecik tawa kita yang menghiasi perbedaan
dalam sebuah melodi yang disebut kebersamaan

namun kebersamaan kita tak selalu berselimut kegembiraan
kadang badaipun datang
tak sedikit pernah terucap kata perpisahan
tapi yang namanya persahabatan , sejatinya kembali pada kebersamaan
yang merajut perbedaan menjadi satu hati yang takkan tergantikan

kepada kawan, teman, dan indahnya persahabatan
pada pesan2 yang terabaikan
atas kesalahan yang belum termaafkan
sebelum kata terlambat menjelang
sebelum hari ini aku melupakan seorang teman
maaf segera kusampaikan

kepada kawan, teman, dan indahnya kisah persahabatan
aku menangis senang
atas pertemanan yang kalian senandungkan
dalam bait2 kehidupan yang kadang tak sejalan

terimakasih kawan
untaian kata ini hanya selembar kisah kita
semoga kebersamaan ini kan slalu membawa makna :)

insomnia sambil fbean , 26 september 2010 jam duabelas kurang
#thanks to my sister . pulsanya abis buat bikin ini catetan . hkakaka