Pages

Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

sepeda biru



“Aku tak ingin pulang,” ujarmu suatu waktu. Sepeda birumu kau pegang erat kala itu.

“Di rumah ada banyak hal yang bisa kau lakukan,” aku membujuk.

“Di luar lebih menyenangkan,” kau beralasan.

“Tapi rumah jauh lebih menenangkan. Kau lebih aman,”

“Kenapa kau begitu membela rumah? Aku tadinya ingin mengajakmu pergi juga,” kau kecewa.

Aku mendesah pelan. Tak mengerti apa lagi yang mesti kukatakan.

“Seseorang merindukanmu,” ujarku pelan.

“Tak ada yang merindukanku. Termasuk engkau,”

“Dari mana kau tahu?”

“Kau tak pernah menganggap hadirku,”

“Bukankah justru engkau yang demikian?”

“Tidak. Engkaulah yang demikian,” kau tak mau mengalah, dan tak ingin di kalahkan. Maka aku diam.

“Aku tak ingin pulang,” dan kau mulai bersiap dengan sepedamu.

“Seseorang merindukanmu,” ujarku lagi.

“Tak ada,” kau hendak mengayuh sepedamu.

“Ada!” aku berusaha mencegahmu.

“Siapa?” kau berbalik. Menatapku penuh amarah. Membuatku ragu jika kau tak kan percaya dengan kata-kataku.

“Katakan! Siapa yang merindukan pecundang macam aku?” tanyamu. Lidahku kelu.

“Mereka semua tak menginginkanku. Termasuk orang-orang yang sejak kecil menghidupi semua orang di rumah. Mereka lebih menyukaimu. Aku hanya pemberontak yang tak pernah memberi manfaat. Semua orang akhirnya membenciku. Dan kau tak perlu membodohiku dengan mengatakan ada yang merindukanku. Semua orang dusta. Aku tak bisa percaya.”

Kau melengos pergi. Padahal aku hendak mengatakannya.

“Jika aku yang merindukanmu, apakah kau percaya?”

Aku mengatakannya lirih. Hampir tak terdengar. Kau sudah berjalan jauh. Tapi seketika itu kau menoleh ke arahku. Ya, kau menoleh. Hanya sekejap, lalu kembali pergi dengan sepeda birumu.

Padahal, aku benar-benar merindukanmu.


Minggu, 06 Oktober 2013

buat emak

hapus air matamu, mak

23 Januari 2011 pukul 20:06
tempat ini terasa sunyi
tak segalau ketika emak mulai memaki
tak ada keributan diantara kedua bocah yang berebut remote tv
tak ada keluhan emak yang menyakitkan hati

tempat ini masih sunyi
tak pula secerah esok tadi
mungkin emak lupa menyalakan lampunya
atau terlalu lelah dengan pekerjaannya
hingga ia memilih tidur tanpa memerdulikan rumah tuannya

isak tangis yang terdengar membuat langkahku berhenti
kudekap erat jilbabku yang bergoyang oleh angin malam
ku dengarkan sayup-sayup terisak yang lirih meronta

ku langkahkan kaki kecilku
menghampiri isak tangis yang memilu
dan kudapati emak membisu
tatapannya kosong, dengan airmata menggenang di pelupuk mata
di bawah sinar rembulan yang menyinari wajahnya

emak memakiku
dengan makian yang tak biasa emak lakukan
emak menatapku tajam
lalu pergi menghilang

mak,
aku tau air mata itu
aku tau raut kesedihanmu
aku tau apa yang kau pendam dalam hatimu

dan aku tau
wajahku ini yang mengingatkanmu dengan anak-cucumu

meski kau maki aku
meski kau hujani aku dengan sejuta kemarahanmu
itu karena kerinduanmu pada anak cucumu


Mak,
tersenyumlah untuk anak-cucumu
yang selalu menantimu hingga ujung waktu
dimana engkau ada disaat mereka merindukanmu

Mak,
tetaplah tabah bersama waktu
dengan segenap kekuatan yang kau miliki, engkaulah wanita perkasa untuk anak-cucumu

Mak,
aku sangat ingin membuatmu bertahan dengan kegigihanmu,
bergulat dengan tangis demi anak-mu,
namun aku hanya dapat tersenyum,
bahwa kau memang ibu terbaik untuk anak-cucumu yang selalu setia mengunngumu

Mak,
ingin rasanya kujumpai anak2mu disana
beri kabar bahwa kau baik2 saja
dan ingin segera bertemu mereka

Mak,
aku tau airmatamu itu
bila kau rindukan anak cucumu, titipkan slam rindumu lewat sujudmu
Lewat doa yang kau kirimkan untuk anak cucumu
Agar kelak kalian bissa bertemu, dengan kebahagiaan tiada tara di pelupuk matamu





Untuk seorang ibu yang jauh dari anak-anaknya
tanpa kau tutupi, aku tau air mata itu

Senin, 24 Desember 2012

dibalik namaku, ada mereka

       "Mbak Na nggak marah kok.. Tapi, kalo kalian mau ngambil pensil, bolpen, spidol, atau yang lain, bilang dulu sama Mbak Na, ya!" pesanku sambil mengeluarkan sebuah bolpen, sesuai pinta anak umur tiga tahun yang sangat menggemaskan itu.
       "Ndak yang itu," bocah itu berujar dengan nada yang lucu, saat melihat bolpen yang ku keluarkan, bukan bolpen yang itu pintanya.
       "Trus yang mana? Ini?" tanyaku sambil menunjukkan bolpen yang lain. Bocah itu mengangguk, lalu ku berikan bolpennya.
       "Nanti kembaliin ke Mbak Na lagi ya..makasih." kataku sambil tersenyum. Bocah itu tak seperti biasanya, ia lebih manis -kepadaku-.
--
       "Nak, mau kemana?" tanya seorang ibu yang terdengar samar dari kamarku.
       "Balikin bolpennya Mbak Na." jawab bocah kecil yang suaranya sangat kukenal, 
    "Licin, nak. Bolpennya gak kamu balikin gapapa, Mbak Na pasti gak akan marah." Beberapa saat kemudian, seorang anak masuk ke kamarku. Bukan bocah yang tadi, tapi bocah yang lain, dua tahun lebih tua dari bocah sebelumnya. Aku tersenyum, mengucapkan, "terima kasih"
       Aku bukannya tidak mau bolpenku tidak kembali. Mau mereka simpan selama-lamanyapun, aku tidak akan marah. Aku hanya mengajarkan kepada mereka satu hal, tanggung jawab.

    Aku punya banyak keponakan yang sering sekali mampir ke rumahku, dan ada juga yang tinggal denganku. Anak-anak umur tiga, lima, enam, sampai sepuluh tahun ada. Bagi mereka, aku sedikit 'galak'. Entah karena mukaku yang terlihat judes atau karena sikapku yang dingin. Aku dan adikku punya perbedaan dalam hal ini. Anak-anak suka sekali bermain dengan adik perempuanku -Lia. Tapi mereka justru jarang bermain denganku, bahkan tidak pernah.
       Sebenarnya aku tidak sedingin itu. Aku suka anak-anak, tapi aku lebih suka mendidik mereka dengan baik. Kamarku berjarak dua kamar dengan sebuah kamar yang sering ditempati anak-anak itu untuk berkumpul dan bermain, kamar Vina. Bocah kecil yang meminjam bolpenku tadi sore. Bocah yang imut sekali. Tapi entah kenapa, aku dan Vina 'bermusuhan' sejak beberapa waktu terakhir. Setiap melihatku, ia berkata kasar, sering mengusirku bila aku masuk kamarnya, bahkan memukul. Aku sempat menangis, bukan karena dipukul. Tapi karena bocah itu, bocah sekecil itu, seimut itu, semenggemaskan itu bisa kasar. Tidak hanya padaku, tapi juga ayah, ibuku, dan orang lain. Anak-anak nakal memang normal, tapi anak itu berbeda. Ia pintar bicara, tapi bicaranya salah. Ia meniru cara bicara orang dewasa yang keliru, dan dibiarkan berbulan-bulan. Sedih melihat anak itu.. Itu bukan salahnya, tapi salah asuhannya. Aku tidak hendak menyalahkan siapapun, maka aku mencoba mendidiknya sebisaku. mengajarinya berkata halus kepada orang yang lebih tua, mengajarinya mengucapkan terima kasih, termasuk mengajarinya tanggung jawab. dan pinjam bolpen tadi sore cukup membuatku senang, karena ia tidak aksar seperti biasanya.

       Dulu, aku punya keponakan favorit. seorang bocah laki-laki bernama Vito. saat itu umurnya 5 tahun, dan umurku 12 tahun. Sejak kecil ia memanggilku "Mbak Na". Padahal namaku Nia. Simpel saja, lidah anak-anaknya belum mampu memanggil namaku dengan sempurna, sehingga ketika memanggilku, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah "Mbak Na". Itupun juga untuk membedakanku dengan adikku, 'Mbak Lia' yang luruh menjadi Mbak Ia. Dan saat itu, lima tahun yang lalu di bulan Januari, adalah perayaan ulang tahun terakhirnya,
       "Vito! Nanti malem Mbak Na punya kadoo buat kamu!" sengaja kubocorkan kejutan itu.
       "Kadonya apa?" tanya Vito.
       "Kereta! Vito suka kereta, kan?" mendengar 'kereta', ia kegirangan. Barang favoritnya adalah kereta dan kuda. Kereta-kuda. Kado yang ku berikan tentu bukan kereta sungguhan. Tapi cuma kereta mainan yang berjalan berputar di atas rel plastik.
       Malam itu sudah banyak orang berdatangan di rumah Vito: kakek, nenek, paman, bibi, saudara-saudara dan tetangga-tetangganya. Tapi Vito marah-marah ketika pestanya hendak dimulai.
       "Nunggu mbak Na dulu! Gak boleh dimulai kalo mbak Na belum kesini!"
       Semenit kemudian, aku datang. Bersama ibu dan Lia. Vito yang melihatku membawa sebuah kotak, kegirangan. Aku segera memberikan kotak itu kepadanya, yang langsung disambarnya dan dibuka bungkusnya. Vito segera masuk ke dalam rumahnya, diikuti anak-anak yang penasaran dengan kado pertamanya. Acara ulang tahun sederhana itupun dimulai. Walaupun begitu, Vito lebih memerhatikan mainan barunya. Ia memasang rel dan mulai memainkan keretanya.


       Itu Vito, lima tahun yang lalu. Kalau ia masih hidup, sekarang umurnya sudah sepuluh tahun. Sudah kelas 4 SD mungkin, setahun lebih tua dari adiknya, Dira. Vito sudah meninggal lima tahun yang lalu, tepatnya saat berumur lima tahun. Vito yang ganteng, yang perutnya buncit, tinggallah foto di ruang tamu. Foto yang cukup besar, fotonya saat naik kuda di Tawang Mangu. Foto aslinya berlatar warung-warung di dataran tinggi, tapi diganti ayahnya dengan pegunungan 'Amerika'. Vito lebih suka latar yang warung, lebih natural. Saking sukanya dengan kuda, keramik kuburannya pun bergambar kuda. Sempat ada patung juga di atas kuburannya, patung kuda. Tapi hilang entah kemana.

       Sekarang, aku sudah jarang bermain dengan anak-anak. Bukan karena kepergian Vito, tapi entah kenapa mereka takut denganku. Aku memang judes, tapi hanya sebatas paras. Kadang aku bercanda dengan mereka, mereka tertawa, tapi masih menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin dalam hati mereka, 'orang segalak ini ternyata bisa tertawa dengan kita'. Tapi itu beberapa waktu yang lalu, sudah lama. Sekarang, ketika hendak merajut canda itu kembali, aku bingung harus memulainya dari mana.
       Aku sering memasak jamur goreng tepung (JGT) dan membuat jus jambu (JJ). Mereka sering melihatku membuatnya, terutama Vina yang tinggal serumah denganku, lalu berkata dengan mantap, "Aku minta aku minta!" tapi tidak dengan Vina. Ia diam, tapi kalau dikasih ya mau. Pernah juga waktu kulihat dia ngiler melihat JGT di atas meja.
       "Vina mau?" aku menawarkan JGT andalanku. Yang ditanya menggeleng, lalu lari menuju kamarnya. Aku salah apa? Bukannya tadi dia ngiler?
     
--

Cerita tanpa kesimpulan, entah benang merah apa yang bisa kutarik. Yang pasti, aku berusaha mendidik anak-anak dengan baik. Karena suatu saat nanti, merekalah yang berperan dalam perkembangan tiap anak yang lahir ke dunia. Karena mereka adalah 'lingkungannya'. Dan perkembangan seorang anak tidaklah lepas dari pengaruh lingkungannya.

Semoga menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah, Fian, Dira, Arya, Putri, Raja, Sasa, Vina, Aurel, Raja, dan keponakan-keponakan jawa barat yang tak bisa kusebutkan satu persatu saking banyaknya. Semoga kalianlah yang berperan dalam perubahan besar positif kelak!

kiri ke kanan: Putri, Vina, Lala