Pages

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2014

Dialog Malam: Belajar Bertahan



“Aku takut..” ujarku memecah sunyi di suatu malam.

“Apa maksudmu?” seorang teman memalingkan wajahnya ke arahku.

“Aku takut jika suatu hari nanti aku tak lagi seperti ini,”

“Seperti ini bagaimana?” 

“Aku takut nggak bisa istiqomah, Rin! Entah kenapa setelah akhir-akhir ini ngeliat fenomena-fenomena itu..” 

Aku menghela napas panjang. Perlahan memori-memori itu kembali. Tentang cerita-cerita yang selama ini kudengar, tentang beberapa teman yang ‘terjatuh’ di tengah jalan, dan tentang orang-orang yang terbuai keduniaan.

“Sa, kayak gitu bukan buat ditakutin,”

“Waspada kan perlu.”

“Inget nggak hadits arba’in nomor 4?”

“Inget..”

“Inget juga nggak tombo ati yang kelima?”

“Enggak,”

“Berkumpul dengan orang-orang sholih, Sa. Kadang, ketika kita sendiri, banyak godaannta,”

“Iya. Kita begitu rapuh. Rawan terguncang, rawan futur,”

“Nah.”

"Kalo bareng-bareng, banyak yang ngingetin. banyak yang kasih semangat. Ya Alloh, Rin, aku kok jadi kangen temen-temen ya."

"Udah ngaji belum hari ini?"

"Dikit,"

"Oloh. Besok tambahin lagi,"

“Iya, Rin. Tapi bantuin aku, ya?”

"Bantu apa?"

"Bantu ngingetin lah,"

“Tanpa kamu minta, udah kewajibanku sebagai saudara buat saling membantu,”

Ririn tersenyum, membuatku semakin yakin bahwa Alloh sayang padaku dengan menghadirkan ia sebagai saudaraku, seraut wajah manis yang selalu menyemangati dan menginspirasi.

“Suatu ketika ustadzku pernah bilang.. Jika seorang teman yang biasanya berperilaku buruk tiba-tiba berubah menjadi baik, jangan heran, karena dia bukan setan. Jika seorang teman yang biasanya baik, sholih, tiba-tiba berubah jadi jahat, jangan heran karena dia juga bukan malaikat.”

..


-Dan kau harus tetap teguh, untuk tegar berdiri diatas kapal yang lautnya bergelombang. Semua bisa mudah menjadi yang didamba, tapi beratnya istiqomah harus kau pertahankan jua-

Selasa, 04 Februari 2014

ini prinsip, bung!

#1
            Mas’ itu’ sombong banget ya, masa diajakin salaman sama cewe ga mau,” ujar seorang teman yang sedang memperagakan teman kampusnya.
            Malam itu, aku dan beberapa teman sedang makan di sebuah rumah makan padang. Aktivitas makan kami sempat berhenti saat kami mencoba mendengarkan cerita itu.
            “Trus aku bilang.. Ga juga, kan dari dulu dia emang gitu,” ujarnya lagi dengan suara berbeda, mengisyaratkan bahwa itu adalah suaranya.
            “Trus dianya jawab.. Tapi dulu dia gak gitu kok, dia dulu mau salaman sama cewek!” ia bercerita dengan mengaduk pelan nasi padang di hadapannnya.
            “Kadang emang susah sama orang kaya gitu. Padahal, masing-masing orang punya prinsip. Dan setiap orang juga perlu menghargai prinsip orang lain,”
**
#2
            “Please Nia, untuk kali ini aja kamu solid ke kita, ya?” ujar teman sekelas yang duduk tak jauh disaat ujian semester mata kuliah bahasa Inggris akan dimulai.
            “Iya, kalo kedengeran ya,”
            “Ga usah pura-pura ga denger, aku tau.” ujarnya pelan, tapi dalem. Hm..
**
#3
            “Kamu mau aku boncengin ga?” kira-kira demikian sms dari seorang teman. Seorang ikhwan. Saat itu aku dan teman-teman berencana pergi, dan aku sendiri sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk motoran sendiri. Agak-agak merinding membacanya. Merinding dalam arti, ‘ini orang kok berani’.. dan bingung, gimana jawabnya biar ga tersinggung. Karena saat itu keadaannya juga sedang ‘terhimpit’
            “Wah, ini aku udah terlanjur ngeluarin motor. Maneman kalo dimasukin lagi, soalnya rumah lagi berantakan,” jawabku seadanya. Tapi emang ada benernya juga.
**
            Iya, ini prinsip. Setiap orang pasti punya prinsip, kan? Kamu dengan ‘BeYourSelf’-mu, dia dengan ‘InginBebas’-nya, atau mereka dengan kesetiaannya, dan sebagainya. Dan mungkin, setiap orang tak ingin prinsipnya diganggu, dikomentari. Pun begitu.
Maka kalo seseorang ga mau saling contekan karena ga mau membodohi teman, itu prinsip. Kalo ada orang yang ga pengen pacaran karena cuma pengen ngedapetin cinta yang halal, itu juga prinsip. Dan kalo cewek nolak berduaan ato boncengan sama cowok yang bukan mahromnya meski udah sahabatan lama serta udah sangat biasa, itu juga prinsip.
            Well, terlepas dari itu semua, ada banyak hal yang mungkin terbesit dalam hati. Manusia mana yang ga lepas dari dosa, salah, lupa? Dan ga menutup kemungkinan saya sendiri juga termasuk di dalamnya. Karena pasti ada sebagian orang pernah bilang, “kamu dulu juga gitu kan”
Tapi usaha untuk memperbaiki diri, salahkah? Mengambil quote dari seorang teman, ‘seburuk apapun kita di masa lalu bukan berarti kita tak berhak menjadi muslimah yang lebih baik seperti sekarang ini..’

Sabtu, 18 Januari 2014

adakah itu engkau

adakah itu engkau
yang dulu selalu membuka tangan jika ku butuh bantuan

adakah itu engkau
yang dulu selalu ada jika ku kehilangan separuh asa

adakah itu engkau
yang dulu selalu menyediakan bahunya untuk ku sandari dengan tenang

adakah itu engkau
dan itulah engkau
yang dulu dan kininya mulai berbeda

adakah itu engkau
yang kini tak peduli saat ku teriaki

adakah itu engkau
yang kini berpaling jika kupanggil namamu lirih

adakah itu engkau
yang kini berlari, tak lagi tersenyum lagi bicara sedikitpun

adanya itu memang engkau
yang tak lagi mampu menghapus pelan air mataku
menahan perih setelah menyadari bila kini, adiknya tak lagi berada di sisi
ia pergi, tak pernah pamit dan belum juga kembali
ia jauh, terbawa arus deras ego yang mengeras

semoga kau temukan dunia yang lebih baik. dunia yang lebih terang dan membahagiakan.


Minggu, 01 Desember 2013

amalkan ia dengan cinta

kali ini bukan semilir angin, bukan senja atau lainnya. karena kali ini saya ingin berbagi tentang.. resep dokter. hehehe

maaf kalo ga nyambung dan rada garing. oke jadi gini, misalnya kita sakit dan harus ke dokter (misalnya lho mislanyaaa). tentu setelah itu kita bakal dapet resep dokter.

otomatis kita pengen sembuh. dan kalo kita pengen sembuh, apa yang kita lakukan terhadap resep dokter itu?
sekedar dibaca, apakah langsung bikin sembuh? *yaa yaaa! tidaaak! bisa jadi bisa jadi*
sekedar tau, *oh ini 3x sehari, ini namanya obat 'tuuuut', dsb* apakah langsung bisa sembuh?

 mungkin kira-kira begitu ibaratnya ilmu. kalo sekedar dibaca, tahu, paham, tapi tak ada pengamalan, selum sempurna rasanya ilmu yang kita dapat akan bermanfaat..

mengingat pula sabda Rasulullah yang suatu hari nanti akan kita alami sendiri..
"Tidak akan bergeser telapak kaki hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya, (salah satunya) tentang imunya, apa yang sudah ia amalkan?"
[HR. Tirmidzi, dinilai shohih oleh Al-Albani]

saat seseorang memiliki niat ikhlas dalam berilmu, ia akan mengerti kalo ilmu bukan tujuan akhir.. tapi ilmu sebagai bekal untuk beramal sholih..

bahkan, "seseorang tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya," (Iqtidhaaul 'ilmi Al-amal hal 18)

ada pula yang mengatakan, ilmu tanpa amal bagai pohon tak berbuah.
jika demikian, apa yang bisa kita dapat?

maka jika sudah kau simpan ilmu itu dalam catatan-catatanmu, amalkan ia satu persatu..
*jangan lupa INGATKAN AKU :)


"Hendaklah kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita baca, bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan, bukan pula dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani, tapi dari amal yang keluar dai setiap desah napas kita.."
[Ibnul Qoyyim Al-jauziah]

Jumat, 15 November 2013

ikatlah ia dengan tinta emasmu

lagi, semilir angin berhembus pelan membelai kerudung kami satu persatu. awan mendung nampak semakin menggelap dari dalam mushola yang masih 'ramai' oleh lingkaran-lingkaran kecil majlis ta'lim yang semuanya adalah akhwat.

aku menggenggam sebuah buku kecil berwarna hitam. buku yang mulai usang, karena sudah lama tak kugunakan. namun begitu, buku inilah yang menjadi saksi bagaimana aku belajar menjadi seorang hambaNya yang mulai mencoba mengerti.

"pada bawa catatan, kan?" tanyaku di tengah-tengah salah satu lingkaran itu.
"oh iya.."
"aduh, lupa.."
"emm, bentar mbak. tasku diluar."
"catet di HP aja ya mbak.."

aku tersenyum, sejenak merapikan posisi dudukku agar lebih nyaman di lingkaran itu. satu persatu 'peserta' lingkaran itu mengambil catatannya masing-masing, kecuali dua orang yang sudah bersiap dengan catatan kecil di tangannya. tak lama, lingkaran itu kembali penuh seperti semula.

"oke, kenapa mbak minta kalian nyatet?"
"ilmu itu ibarat buruan kak. akan lari kalo ga diiket.." seseorang di kananku menjawab dengan mantap, mengulang kata-kataku saat pertama melingkar bersama mereka.
"beneer. ada yang lain?"

mereka sibuk berpikir. lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkah mereka. setiap melingkar, mereka begitu semangat mendengarkan, apalagi bertanya. belum sampai selesai pemateri berbicara, segera ada yang 'menyela' (baca: menambahkan ilmu), juga bertanya dan berebut dengan lainnya. tapi sepertinya, mereka belum paham benar makna "Qayyidul 'ilmaa' bil kitaabah" itu bagaimana.

"Oke. adik-adik yang kusayangi karena Alloh, pernah makan krupuk?"
"pernaaaah!" jawab mereka serentak.
"beda ga krupuk di dalem toples sama krupuk yang kelamaan diluar?"
"beda mbak. kelamaan diluar bisa mlempem."
"hehe, yak tuuul. ibaratnya macem krupuk. disini, di dalem "kaleng" ta'lim ini kita semangaaat banget, alhamdulillah. semangat dengerin tausyah, semangat berbagi ilmu. dan jangan sampe ketika diluar nanti, kita justru mlempem. maka, bawa semangat itu ketika kita keluar. simpan semangat itu dalam catatanmu, dengan tinta emasmu, yang suatu hari nanti akan sangat bermanfaat saat kamu baca lagi.."

memoriku mulai berjalan mundur ke masa lalu, kira0kira tiga tahun yang lalu. tepat saat aku baru mulai belajar mengerti, belajar memperbaiki diri, disini, di tempat ini. mereka sama halnya dengan aku dan kawan-kawanku dulu. semangat itu masih terasa hingga kini. meski kemudian, seleksi alam akan mulai berjalan. entah, siapa yang akan mampu bertahan.

meski selama apapun engkau belajar, sepintar apapun engkau dalam ilmu, tetaplah "Tarbiyah madal hayah". belajar, sampai kapanpun. sampai suatu hari engkau kembali. dengan tak lupa mengamalkannya satu persatu. dengan membukukannya dalam catatan indahmu.

simpan, simpan ia dalam kenangan terindahmu. dalam memori yang tak kunjung terkelupas.
setidaknya, ia adalah sarana menuju syurga. ia, ilmu, yang kau miliki, hanyalah setetes air yang keluar dari jarimu saat kau celupkan tanganmu ke dalam samudera. ia hanya setetes, dibanding ilmu Alloh yang luasnya tak terkira.

 Qayyidul ilmaa bil kitaabah. ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
terimakasih kepada murabbi, kawan, ustadz, ustadzah, orang tua, yang telah memberikan kontribusi atas  tersampaikannya ilmu dalam diri ini.

Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelis-majelis taklim." (HR. Ath-Thabrani)

semoga bisa istiqomah berilmu, beramal dan mengajarkannya.


Jumat, 08 November 2013

kau hanya tak mengerti

malam semakin pekat saat aku menuangkan teh hangat di cangkir kecilku.
angin malam melambai pelan meniup kerudung biruku, pertanda bahwa jendela ruang tamu belum ditutup.
pelan tapi pasti kulangkahkan kaki menuju kamar sembari mengambil ponsel yang terletak di meja ruang tamu.
aku tersenyum saat melihat nama seorang teman muncul di hpku, pertanda pesan singkat darinya.
namun tak sampai lima detik, senyumku berubah setelah membaca pesan singkatnya.

**

"kok manyun?" tanya seorang teman saat aku menghampirinya pagi itu. aku terdiam beberapa saat, sampai akhirnya keluarlah perasaanku dalam kata2 yang kulontarkan padanya. dengan tenang dan senyuman, ia menjawab,
"cie.."
 "kok cie?"
"abisnya kamu mellow gitu pas ada masalah sama dia,"
"aduh ci bukan itu masalahnya,"
"trus?"
".."
"ngaku aja, hati ga bisa sembunyi," cici, temanku mulai membuka laptop hitamnya.
"bukan itu ci.. masalahnya, entah kenapa aku selalu serba salah di mata dia. ini bukan soal perasaan merah jambu, apalah itu. ini soal.. em, harga diri, ci.."
"hmm.. iya-iya. cerita lagi deh gimana lengkapnya,"
"awas kalo masih keluar cie-cie lagi,"
"iyaa. ntar yang keluar 'cihuyy'.." cici tertawa lebar, segera kucubit lengannya.
"entah kenapa sama manusia yang satu ini, aku selalu ngerasa diremehin.. bukannya apa-apa, tapi kan ga enak juga,"
"diremehin gimana?" cici mulai mengetik seperti seorang wartawan yang baru mendapat berita.
"hmm.. pernah, dulu aku diingetin sama beliau, dan akunya ga masalah. trus kemarin gantian ku ingetin beliau dengan kata-kata yang sama kayak dulu beliau ingetin aku, tapi kok kayaknya beliaunya ga suka gitu,"
"trus?"
"trus setiap aku ngomong, entah itu di forum ato bukan, beliau selalu komentar, seolah-olah ngejudge.. ah pokoknya.. gitu deh."
"perasaanmu aja kali,"
"iya, tapi ngena banget,"
"ga usah terlalu dipikirin,"
"tapi kepikiran teruus,"
"hmm..kadang kita itu ngeliat orang cuma sebagian. cuma di bagian-bagian yang paling berpengaruh ke kita. dan sayangnya, yang kamu liat tuh pengaruh negatifnya," kata cici mulai membijak. ia menutup kembali laptopnya.
"gimana tuh ci?"
"aku liat dia ke kamu ga gitu-gitu amat kok. emang sih kadang kalo ngomong suka nge-jleb, tapi inget ga pas acara *tuuut* dia ngomong apa ke kamu?"
"inget sih.. tapi kayaknya itu cuma sebatas menghibur,"
"ah, nggak juga. trus soal dia bermasalah pas kamu ingetin balik, bisa aja dia lagi ga mood. coba deh diajak ngomong baik-baik, pasti ga gitu lagi kejadiannya. maklumlah orang sibuk dianya, kalo lagi cape mungkin gitu,"
"tapi ci,"
"inget ga pepatah, 'jangan liat orang sebelah mata'? nah itu pepatah juga bisa kamu pake di posisimu sekarang,"
..
"iya juga ya ci,"
semilir angin menepuk wajahku pagi itu. cici tersenyum dan mengacungkan jempol padaku.
"husnudzon sis," katanya.
"oke sis, makasih pencerahannya,"
"senyumnya mana?"
"masih susah ci,"
"yaampun, perlu dibeliin nasi kucing dulu?"
"nah iya, itu maksudnya," tanpa aba-aba akupun memperlihatkan sesimpul senyum. cici segera menarik tanganku dan berjalan ke arah warung nasi terdekat.

**

mungkin bener kata cici, yang kita pikirin belum tentu semuanya benar. ibarat lagi nyetak foto di tempat orang dan ada satu bagian yang rusak, kita malah fokus ke satu bagian yang rusak itu dan ngomel abis-abisan padahal masih banyak bagian yang bagus juga.

apapun keadaannya, baik kita di posisi yang 'di-bully' ato orang lain yang 'ke-bully', keep husnudzon. hehehe :))

Rabu, 16 Oktober 2013

saatnya berkaca

Saatnya berkaca, siapa diri ini sebenarnya.
Saatnya berkaca, sudahkah lisan terjaga.
Saatnya berkaca, apakah diri ini sudah semestinya seperti yang pernah dikata.

Aku bukanlah siapa-siapa.
Aku diciptakan dari tanah, dan akan kembali ke tanah.
Aku dimiliki oleh Dzat yang Maha Raja, maka aku tak punya kuasa apa-apa.
Aku ini lemah, kecil, tak berdaya.

Hanya mulut besarku yang kerap terbuka.
Berkata seolah tak ada yang terluka.
Bicara tanpa mengerti apa yang kukata.

Aku ini manusia.
Aibku ada di sana sini.
Bertingkah seolah tak ada yang mengawasi.
Padahal setiap hari, aku disorot cctv.

Aku sering bertanya.
Akan kemana diriku nanti.
Saat semua telah berakhir.
Saat semua hal akan bertemu ujungnya.
Saat semua akan berhenti pada waktunya.

Saatnya berkaca, siapa aku sebenarnya.
Aku hanyalah titipan.
Yang hendak dicoba, diuji dengan segala cara.

Aku hanya akan tunduk pada Majikanku, Sang Pemberi Makan, Minum, Sabun, dan segalanya.
Aku harusnya malu jika setitik noda membelenggu hatiku.

Setidaknya aku harus malu, saat aibku tercecer sepanjang hidupku.

Aku harusnya malu.
Aku pernah berjanji, tapi kuingkari.

Aku harusnya malu.
Aku sadar Ia Maha Besar
 Tapi di hati ada yang lebih besar.

Aku malu, sangat malu.


Setidaknya kini aku berkaca.
Sudahkah diriku seindah yang didamba.
Sudahkah lisanku terjaga pada semestinya.

Aku manusia. Aku milik-Nya.
Dan aku minta maaf atas segalanya.

:')

16/10/2013
20:24


Jumat, 10 Mei 2013

Pagi, Mblo :)

“Pagi mblo!”
 “Haloooo, mblo!”

 Pagi itu Putri gondokan. Pagi-pagi udah dibikin badmood gara-gara ngeliat status temen-temennya kayak gitu. Simpel emang, niatnya Cuma ngucapin met pagi dsb dsb, tapi ‘mblo’nya itu lho! Bikin Putri ngerasa itu penghinaan atas dirinya yang jomblo.

 Jomblo atau gak punya pacar alias single. Yup, jomblo! Sekarang ini nggak punya pacar berasa jadi aib nasional –itu kata ustadz saya yang ternyata benar.

Sadar nggak sih, satu kalimat simpel itu terkadang bisa menjerumuskan. Menurut Putri, dia ngerasa terhina (duh) karena dipanggil jomblo. Lama-lama karena nggak betah, Putri pun memutuskan,

“Biar nggak dibilang jomblo terus, mendingan gue pacaran!”

Setelah itu Putri beneran punya pacar. SMS-an sampe lupa makan, senyum-senyum sendiri kalo lagi mandi, udah jarang banget bantuin ibunya di rumah karena ngeloyor mulu sama pacarnya,pegangan tangan sama pacar padahal bukan mahromnya, sampe lupa nggak sholat karena lagi maksiat! Na’udzubillah. Dan yang lebih parahnya lagi kalo sampe perzinahan terjadi. Na’udzubillahimin dzalik.

Men, apa kita nggak mikir sampe situ? Emang sih nggak semua pacaran berujung zina, tapi banyak zina yang berawal dari pacaran –kata Ustadz Felix Siauw dalam bukunya, “Udah Putusin Aja!”

 “Yang bener aja, kita pacaran juga nggak ngapa-ngapain kok!”

 Padahal Allooh SWT berfirman dalam surat Al-Israa’:32, “Dan janganlah kamu mendekati zina..”

yang bilang bukan saya lho ya, ini yang bilang Allooh langsung. Dan emang banyak ‘kerugian’ yang terjadi kalo kita mendekati zina, yang disebut dengan pacaran dan sebagainya itu. Biasanya kalo itu beneran terjadi, kita baru sadar, padahal udah telat. Tapi apa ya kita mau sampe beneran kejadian dulu? Makanya Allooh udah ngewanti-wanti! Kurang baik apa coba Allooh ke kita, tapi kadang kita masih nggak tau bahkan nggak mau tau.

Jadi ngerti kan kenapa manggil ‘jomblo-jomblo’ itu bisa menjerumuskan? Kadang ada sih temen kita yang cuek kalo digituin, tapi tetep kita perlu jaga lisan, alias ngejaga apa yang kita katakan.

 Seperti halnya “cieeee”-nya kita ke temen yang ngasih sesuatu karena tugas sekolah ke lawan jenisnya atau kebetulan ketemu. Pas di ROHIS misalnya, ada ikhwan yang ngasih ‘sesuatu’ ke temen kita yang akhwat, padahal itu buat keperluan ROHIS, biasanya yang terlontar dengan refleks adalah “CIEEEEEEEEE.” Apa kita nggak mikir gimana perasaan temen kita? Ternodaikah hatinya dengan candaan yang kita lakukan? Terlenakah ia sampai ia terus memikirkan ikhwan itu hingga terus terbayang-bayang dan zina hati? Jangan ya, sob. Kasian temen kita.

Oke sob, sekecil perbuatan bisa jadi dosa, begitu pula sebaliknya. Nggak sadarkah satu kata yang kita ucapkan kadang bisa jadi bencana? Nggak main-main lhoh ya..

Ohh iya, cerita Putri masih berlanjut. Ngeliat tweet-tweet tentang pacaran dan baca-baca status temennya yang lain tentang bahaya pacaran, Putri akhirnya sadar. Iapun memutuskan untuk memutuskan dengan keputusan bahwa ia putus!

 Intinya Putri mutusin pacarnya, karena dia lebih takut murka Allooh ketika ia mendekati zina.

Sekian :)

Minggu, 24 Maret 2013

sang idola



Di suatu senja yang mendung, pertanda kalau bentar lagi gerimis, si Joni lagi asik benerin jambulnya di depan kaca sambil berdendang lagu band.
“Mau kemana, Jon?” tanya Jeni, kakaknya.
“Dih kakak ketinggalan berita banget, ga ngerti apa ada konser NOAH malem ini?” jawab Joni sekenanya. Jeni menatap adiknya dengan geleng-geleng
“Bentar lagi maghrib, dek. Siap-siap yuk” ajak Jeni dengan senyum penuh arti.
“Aduh gimana ya kak, Joni harus buru-buru nih, ntar kalo sampe telat Joni bisa kehabisan tempat, gagal dong nonton NOAH-nya!” denger adiknya ngomong begitu, Jeni makin kenceng aja geleng-geleng kepalanya.
“Dek, kan konser rame banget tuh ya, trus biasanya pada desak-desakan gitu kalo nonton, dan ga jarang banyak orang yang tewas karna pada berantem dan sebagainya, kalo mislanya Joni jadi korban trus meninggal, padahal Joni blom sholat maghrib, Joni mau bilang apa pas di alam kubur nanti?” Tanya Jeni serius.
“Ya ampun kakak kok malah do’ain Joni yang nggak-nggak sih!”
“Kakak nggak do’ain dek, kan ajal bisa kapan aja. Terserah Joni mau pilih yang mana, mau sholat tepat waktu ato nonton konser tepat waktu..” Jeni langsung ngeloyor pergi meninggalkan Joni yang mulai ketakutan setengah mati, segera ia merapikan jambulnya dan bergegas mengambil air wudhu, karena adzan maghrib juga sudah berkumandang.
**
Kemunculan fenomena idola saat ini emang udah kelewat batas. Usut punya usut, munculnya idola-idola ini mengalihkan perhatian kamu sebagai remaja islam, yang biasanya rajin ngaji jadi rajin nonton TV, trus ikut-ikutan pacaran ala artis-artis idola yang ujungnya ke zina, na’udzubillah.
Nah, ada kisah menarik antara Zi dan Zul. Zi ngefan banget sama Shinee, SNSD, SuJu, pokoknya all about Korea. Kalo Zul ngefannya sama seseorang yang dia gak pernah lihat sebelumnya, belum pernah ketemu tapi kagum banget sama sosoknya. Siapa lagi kalau bukan motivator nomer 1 di dunia, Rasulullah Muhammad SAW.
Zi ngeliat idolanya di TV tiap hari, joget-joget sambil nyanyiin lagu-lagu mereka. Zi Cuma bisa ngeliat mereka dari jauh, pengen ketemu mereka tapi ga pernah kesampean. Sedangkan Zul, kekagumannya bawa manfaat yang luar biasa. Yang dulunya ngebet pengen sama kaya artis idolanya, sekarang kalem dengan wajah ceria. Hatinya lebih adem, karna dari Rasulullah dia belajar banyak hal. Keikhlasan, kejujuran, dan kebahagiaan yang hakiki dalam bingkai islam. Hatinya jadi lebih adem, berasa lebih ganteng.
KPOP emang bagus, tapi lebih bagus mana sama Rasulullah yang sudah lama mendunia? Ialah manusia mulia yang diutus Allah ke dunia. Ia menjadi penyempurna akhlak disaat dunia diserang krisis kebaikan.
Kagum sih boleh aja, tapi tetep inget sama Yang Maha Kuasa. Jangan sampai kita terjebak pada kekaguman kita sama idola trus ikut-ikutan melakukan hal yang negatif, dan jangan mengidolakan orang yang mendorong kita jauh dari-Nya..
Oleh karena itu, idolakanlah orang yang mendorong kita untuk selalu dekat dengan kebaikan bahkan yang pertama kali konsisten melakukan kebaikan tersebut. Maka, tentu tidak ada pilihan yang terbaik kecuali Rasulullah SAW. Karena kita tidak mengetahui seorang pun yang menyamai Rasulullah dalam hal kebaikan dan teladan untuk selalu taat kepada Allah SWT.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati; semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (Qs Al-Israa:36)
Jangan jadi generasi bebek yang asal ikut-ikutan ya, ngefans ini itu tapi ga tau apa-apa, ga tau kalo ternyata mereka ‘membahayakan’ kita. Nah, hati-hati dengan artis yang kita idolakan, lebih baik sandarkan kekaguman kita kepada seseorang yang lebih mulia. Siapa lagi? Rasulullah dong.
Hidup ini cuma sebentar, ambillah sebanyak-banyaknya kemanfaatan, sebelum ajal datang, perbaiki diri dengan meninggalkan segala kesia-siaan. Karena di akhirat nanti, kita bakal dikumpulin sama idola kita. Ketika itu, ga ada yang bisa ngasih pertolongan kecuali Alloh dan rasulNya. Bayangin kalo misalnya kita ngefan sama Lady Gaga, bisakah dia nolongin kita? Boro-boro.. hehehe.

“Mengidolakan artis Cuma seneng di dunia, belum tentu seneng di akhirat, dan justru akan melenakanmu karna lupa sholat lima waktu”

“Mengidolakan KPOP, NOAH dan artis lainnya udah sangat biasa. Tapi mengidolakan rasulullah Muhammad SAW sungguh kece luar biasa.”

So, pilih yang mana?
Jadilah Remaja Muslim yang Cerdas!