Pages

Minggu, 06 Oktober 2013

buat emak

hapus air matamu, mak

23 Januari 2011 pukul 20:06
tempat ini terasa sunyi
tak segalau ketika emak mulai memaki
tak ada keributan diantara kedua bocah yang berebut remote tv
tak ada keluhan emak yang menyakitkan hati

tempat ini masih sunyi
tak pula secerah esok tadi
mungkin emak lupa menyalakan lampunya
atau terlalu lelah dengan pekerjaannya
hingga ia memilih tidur tanpa memerdulikan rumah tuannya

isak tangis yang terdengar membuat langkahku berhenti
kudekap erat jilbabku yang bergoyang oleh angin malam
ku dengarkan sayup-sayup terisak yang lirih meronta

ku langkahkan kaki kecilku
menghampiri isak tangis yang memilu
dan kudapati emak membisu
tatapannya kosong, dengan airmata menggenang di pelupuk mata
di bawah sinar rembulan yang menyinari wajahnya

emak memakiku
dengan makian yang tak biasa emak lakukan
emak menatapku tajam
lalu pergi menghilang

mak,
aku tau air mata itu
aku tau raut kesedihanmu
aku tau apa yang kau pendam dalam hatimu

dan aku tau
wajahku ini yang mengingatkanmu dengan anak-cucumu

meski kau maki aku
meski kau hujani aku dengan sejuta kemarahanmu
itu karena kerinduanmu pada anak cucumu


Mak,
tersenyumlah untuk anak-cucumu
yang selalu menantimu hingga ujung waktu
dimana engkau ada disaat mereka merindukanmu

Mak,
tetaplah tabah bersama waktu
dengan segenap kekuatan yang kau miliki, engkaulah wanita perkasa untuk anak-cucumu

Mak,
aku sangat ingin membuatmu bertahan dengan kegigihanmu,
bergulat dengan tangis demi anak-mu,
namun aku hanya dapat tersenyum,
bahwa kau memang ibu terbaik untuk anak-cucumu yang selalu setia mengunngumu

Mak,
ingin rasanya kujumpai anak2mu disana
beri kabar bahwa kau baik2 saja
dan ingin segera bertemu mereka

Mak,
aku tau airmatamu itu
bila kau rindukan anak cucumu, titipkan slam rindumu lewat sujudmu
Lewat doa yang kau kirimkan untuk anak cucumu
Agar kelak kalian bissa bertemu, dengan kebahagiaan tiada tara di pelupuk matamu





Untuk seorang ibu yang jauh dari anak-anaknya
tanpa kau tutupi, aku tau air mata itu

untukmu, kawan

bismillaah
lama tak menulis lagi
demi sekedar mengisi, ini tulisan saya 3 tahun yang lalu, pernah saya posting di note FB. saat SMP
semoga bermanfaat

untukmu, kawan

26 September 2010 pukul 23:45
bacalah, semoga bermakna,,


hai kawan

ingatkah kalian hari dimana kita dipertemukan ?
waktu disaat kita bermimpi untuk menyatukan harapan,
dan gemerecik tawa kita yang menghiasi perbedaan
dalam sebuah melodi yang disebut kebersamaan

namun kebersamaan kita tak selalu berselimut kegembiraan
kadang badaipun datang
tak sedikit pernah terucap kata perpisahan
tapi yang namanya persahabatan , sejatinya kembali pada kebersamaan
yang merajut perbedaan menjadi satu hati yang takkan tergantikan

kepada kawan, teman, dan indahnya persahabatan
pada pesan2 yang terabaikan
atas kesalahan yang belum termaafkan
sebelum kata terlambat menjelang
sebelum hari ini aku melupakan seorang teman
maaf segera kusampaikan

kepada kawan, teman, dan indahnya kisah persahabatan
aku menangis senang
atas pertemanan yang kalian senandungkan
dalam bait2 kehidupan yang kadang tak sejalan

terimakasih kawan
untaian kata ini hanya selembar kisah kita
semoga kebersamaan ini kan slalu membawa makna :)

insomnia sambil fbean , 26 september 2010 jam duabelas kurang
#thanks to my sister . pulsanya abis buat bikin ini catetan . hkakaka

Jumat, 10 Mei 2013

Pagi, Mblo :)

“Pagi mblo!”
 “Haloooo, mblo!”

 Pagi itu Putri gondokan. Pagi-pagi udah dibikin badmood gara-gara ngeliat status temen-temennya kayak gitu. Simpel emang, niatnya Cuma ngucapin met pagi dsb dsb, tapi ‘mblo’nya itu lho! Bikin Putri ngerasa itu penghinaan atas dirinya yang jomblo.

 Jomblo atau gak punya pacar alias single. Yup, jomblo! Sekarang ini nggak punya pacar berasa jadi aib nasional –itu kata ustadz saya yang ternyata benar.

Sadar nggak sih, satu kalimat simpel itu terkadang bisa menjerumuskan. Menurut Putri, dia ngerasa terhina (duh) karena dipanggil jomblo. Lama-lama karena nggak betah, Putri pun memutuskan,

“Biar nggak dibilang jomblo terus, mendingan gue pacaran!”

Setelah itu Putri beneran punya pacar. SMS-an sampe lupa makan, senyum-senyum sendiri kalo lagi mandi, udah jarang banget bantuin ibunya di rumah karena ngeloyor mulu sama pacarnya,pegangan tangan sama pacar padahal bukan mahromnya, sampe lupa nggak sholat karena lagi maksiat! Na’udzubillah. Dan yang lebih parahnya lagi kalo sampe perzinahan terjadi. Na’udzubillahimin dzalik.

Men, apa kita nggak mikir sampe situ? Emang sih nggak semua pacaran berujung zina, tapi banyak zina yang berawal dari pacaran –kata Ustadz Felix Siauw dalam bukunya, “Udah Putusin Aja!”

 “Yang bener aja, kita pacaran juga nggak ngapa-ngapain kok!”

 Padahal Allooh SWT berfirman dalam surat Al-Israa’:32, “Dan janganlah kamu mendekati zina..”

yang bilang bukan saya lho ya, ini yang bilang Allooh langsung. Dan emang banyak ‘kerugian’ yang terjadi kalo kita mendekati zina, yang disebut dengan pacaran dan sebagainya itu. Biasanya kalo itu beneran terjadi, kita baru sadar, padahal udah telat. Tapi apa ya kita mau sampe beneran kejadian dulu? Makanya Allooh udah ngewanti-wanti! Kurang baik apa coba Allooh ke kita, tapi kadang kita masih nggak tau bahkan nggak mau tau.

Jadi ngerti kan kenapa manggil ‘jomblo-jomblo’ itu bisa menjerumuskan? Kadang ada sih temen kita yang cuek kalo digituin, tapi tetep kita perlu jaga lisan, alias ngejaga apa yang kita katakan.

 Seperti halnya “cieeee”-nya kita ke temen yang ngasih sesuatu karena tugas sekolah ke lawan jenisnya atau kebetulan ketemu. Pas di ROHIS misalnya, ada ikhwan yang ngasih ‘sesuatu’ ke temen kita yang akhwat, padahal itu buat keperluan ROHIS, biasanya yang terlontar dengan refleks adalah “CIEEEEEEEEE.” Apa kita nggak mikir gimana perasaan temen kita? Ternodaikah hatinya dengan candaan yang kita lakukan? Terlenakah ia sampai ia terus memikirkan ikhwan itu hingga terus terbayang-bayang dan zina hati? Jangan ya, sob. Kasian temen kita.

Oke sob, sekecil perbuatan bisa jadi dosa, begitu pula sebaliknya. Nggak sadarkah satu kata yang kita ucapkan kadang bisa jadi bencana? Nggak main-main lhoh ya..

Ohh iya, cerita Putri masih berlanjut. Ngeliat tweet-tweet tentang pacaran dan baca-baca status temennya yang lain tentang bahaya pacaran, Putri akhirnya sadar. Iapun memutuskan untuk memutuskan dengan keputusan bahwa ia putus!

 Intinya Putri mutusin pacarnya, karena dia lebih takut murka Allooh ketika ia mendekati zina.

Sekian :)