Pages

Minggu, 01 Juni 2014

Saling Melengkapi



Katanya, di dunia ini, semua hal saling melengkapi. Kau tahu apa maksudnya? Mungkin keduanya tak sama. Keduanya berbeda. Dan perbedaan itu justru melengkapi satu sama lain.

Seperti bulan dan matahari. Keduanya berbeda. Bulan ada pada malam, dan mataharipun ada pada siang. Siang dan malam juga saling melengkapi. Siang itu terang, malam itu gelap. Namun keduanya saling melengkapi.

Sepatu yang kiri-kanannya berbeda, mereka saling melengkapi. Ibuku yang gemar bicara, ayahku yang begitu pendiam. Mereka saling melengkapi.

Seperti halnya kamu dan dia. Kalian jauh berbeda, bertengkar setiap harinya meski sebentar saja lalu kembali saling menyapa. Kalian saling melengkapi untuk bisa membuatku tertawa.

Dan aku?

Aku yang sakit ini. Apakah akan bersama seorang ‘dokter’ suatu hari nanti?

Minggu, 20 April 2014

adakah selain rumah?

Adakah tempat selain rumah?
Jika aku bisa pergi kapanpun ku mau, aku akan pergi
Menyaksikan dunia yang begitu luas
Bertemu dengan berbagai macam manusia
Menyapa mereka, lalu singgah sementara dan lanjut berkelana
Seolah, beban dalam otakmu bisa kau tenggelamkan sejenak dalam lautan imajimu

Omong kosong apa yang kukatakan ini
Aku tak membenci rumah
Tapi aku merasa lebih baik jika aku tak berada di rumah
Bukan salah rumah jika aku tak ingin tinggal
Tapi salahku yang terlanjur tak nyaman
Berada dalam situasi yang membuatku cukup frustasi

Bukan salah rumah
Tapi aku yang selalu ingin keluar
Menyaksikan banyak warna kehidupan
Berharap aku bisa membuat ceritaku sendiri seperti yang selama ini kutulis

Bukan salah rumah jika aku tak peduli
Tapi karena egoku yang semakin menjadi
Bukan salah rumah
Bukan
Tapi aku benci jika terus berada dalam kungkungan pikiranku yang selalu terganggu disana
Adakah tempat selain rumah?

Saat tiba-tiba dunia begitu kejam

Hari ini, tiba-tiba semua orang menjadi jahat di mataku
Semanis apapun kata-kata yang mereka lontarkan, percayalah. Itu racun
Racun yang menggerogoti seluruh pikiranmu
Memaksamu keluar dari duniamu yang tenang dan nyaman
Meski kenyamanan dan ketenangan itu memang pernah kau pertanyakan

Dunia ini kejam, tiba-tiba itu yang kau pikirkan
Dunia ini merenggut kebahagiaan dengan perlahan
Kau jatuh, tapi mereka tak peduli
Kau merasakan sayang, tetapi mereka menyalahartikan. Lalu mengusirmu kejam
Kau bertanya, salah apa dalam dirimu
Hingga mereka mengutukmu satu persatu
Mereka yang selama ini kau lihat sebagai malaikat
Mereka yang selama ini kau anggap bidadari penolong setiap saat
Tapi nyatanya, dibalik itu semua, mereka berencana
Untuk menghancurkan kebahagiaanmu, satu-persatu
Perlahan, kebahagiaan itu menghilang dari pelupuk matamu
Mengecil, lalu lenyap. Dan kau tersenyum sambil berharap
Jika kelak, kau akan mendapatkan yang lebih baik

Ya, berharaplah. Meski air mata harus kau tahan untuk sebuah senyuman yang kau hadirkan demi membungkus penderitaanmu yang terlanjur dalam.